Carlos Tevez cetak dua gol, Juve dekatkan gelar Serie A

2-tevezCarlos Tevez mencetak dua gol ketika Juventus mengalahkan Fiorentina 3-2 tetapi pemuncak klasemen ini masih harus menunggu untuk memastikan gelar Liga Serie A yang keempat mereka secara beruntun ketika pesaing terdekat mereka masih mengejar.

Dengan lima pertandingan tersisa, Juventus memiliki selisih 14 angka dari Lazio di puncak Serie A tetapi kemenangan 4-0 Lazio atas Parma, yang didegradasi karena hasil itu, berarti kemenangan keempat beruntun Juve masih belum dipastikan.

“Pada tahap ini butuh sebuah mujizat bagi kami untuk tidak memenangkan gelar,” ungkap pelatih Juventus Massimiliano Allegri.

“Saya harap kami bisa mendapatkan angka yang kami perlukan di Genoa (menghadapi Sampdoria), meski kami sudah kehilangan dua pertandingan tandang kami di Parma dan Torino, jadi kami bisa berkonsentrasi penuh di Liga Champions dan Coppa Italia.”

Gonzalo Rodriguez menghantarkan Fiorentina unggul lewat tendangan penalti tetapi Fernando Llorente menyamakan kedudukan untuk Juve sebelum Tevez mencetak dua gol, mencatatkan gol ke 20 di Liga, untuk melengkapi kemenangan si Nyonya Tua.

Rodriguez melewatkan penalti kedua dalam pertandingan itu dan Josip Ilicic memperkecil ketertinggalan di menit akhir.

Marco Parolo, Miroslav Klose dan Antonio Candreva mencetak gol dalam enam menit pertama di pertandingan untuk memberikan kemenangan meyakinkan bagi Lazio atas Parma. Keita Balde menambahkan gol keempat di akhir pertandingan.

AC Milan, kembali ke pusat latihan mereka bersama pelatih Filippo Inzaghi setelah kekalahan 2-1 mereka di Udinese hari Sabtu lalu, kalah 3-1 di kandang oleh Genoa. Para pendukung yang ramah menyabut tim kesayangan mereka dengan sebuah spanduk besar yang bertuliskan “cukup” sebelum pertandingan dimulai.

Penyerang Pantai Gading Seydou Doumbia mencetak gol pertamanya untuk tim di urutan tiga AS Roma sejak kepindahannya dari CSKA Moscow bulan Januari lalu untuk mengamankan kemenangan 3-0 di Sassuolo yang meningkatkan kesempatan mereka untuk mencapai setidaknya babak play-off Liga Champions.

Alessandro Florenzi dan Miralem Pjanic melengkapi kemenangan bagi tim asuhan Rudi Garcia ini. Baca juga cara daftar Ibcbet.

 

3 Momen Paling Bersejarah di FA Cup

2-cech

Penyelamatan Peter Cech di final FA Cup, terbaik sepanjang masa, 2012

Chelsea, yang tengah bersiap menghadapi final Liga Champions, mengamankan kemenangan Double di 2012. Dan peristiwa itu sebagian besar terjadi berkat penjaga gawang mereka. Penyelamatan gemilangnya, menempis sundulan keras dari Andy Carroll ke tiang gawang, berhasil menjaga keunggulan tim dia atas Liverpool. Jika sundulan tersebut masuk ke gawang – diarahkan dengan sangat keras oleh kepala Carroll, tentu para pemain akan memiliki kesan berbeda yang diingat tentang tim Merseyside itu. Karena penyelamatan tersebut, justru Cech yang akan selalu diingat dalam pertandingan tersebut.Momen ini disiarkan langsung oleh Ibcbet .

2-watson

Ben Watson mencetak gol penentu kemenangan saat Wigan kalahkan Man City di final 2013

Pemain pengganti Ben Watson sudah beberapa saat berada di atas lapangan tetapi Sembilan menit ketika dia mencetak gol yang membantah semua asumsi tentang siapa yang akan memenangkan trofi Piala FA ini. Menghadapi tim dengan susunan tim termahal di Inggris, pemain yang sempat absen panjang karena patah kaki di musim tersebut berlari ke ujung tiang dan menyambut sepak pojok sempurna dari Shaun Maloney untuk menyontek bola melewati Joe Hart. Cukup baik dikatakan jika inilah gol yang dinikmati oleh pemimpin Wigan Dave Whelan, yang gagal mengangkat trofi Piala FA sebagai pemain 53 tahun lalu, tetapi berhasil mendapatkan trofi Piala FA sebagai pemilik klub.

2-patrick-vieira

Tendangan penalti Patrick Vieira menangkan trofi bagi Arsenal, 2005

Tendangan terkahir Patrick Vieira dalam seragam Arsenal merupakan tendangan yang sangat penting. Setelah Paul Scholes melewatkan satu tendangan penalti untuk Manchester United dalam adu tendangan penalti, tidak pernah sedikitpun pemain Perancis ini terlihat seolah-olah dia akan melakukan segala sesuatu kecuali mencetak gol. Dan karenanya, Arsenal memenangkan undian adu tendangan penalti pertama dalam sejarah final Piala FA. Tidak akan pernah ada lagi pertandingan kedua, atau pertandingan ulang dalam final. Sejak saat itu, setiap hasil imbang dalam final akan langsung diputuskan dari jarak 12 yard. Sementara itu bagi Arsenal, perlu Sembilan tahun lainnya sebelum Arsene Wenger bisa memimpin mereka ke trofi lainnya. Selama masa waktu tersebut setiap klub di liga sepak bola mengganti pelatih mereka setidaknya sekali.

 

Mario Balotelli, Luis Suarez, Fernando Torres di Anfield untuk Pertandingan Amal

2-balotelliLuis Suarez dan Fernando Torres kembali ke Anfield hari Minggu kemarin tetapi Balotelli bersinar di antara keduanya, mencetak satu gold an membantu gol lainnya dalam hasil imbang 2-2 pada pertandingan aman Liverpool All Star.

Steven Gerrard dan Jamie Carragher jadi kapten masing-masing tim dalam pertandingan di Anfield dan diikuti oleh sejumlah pemain Liverpool masa lalu dan sekarang, juga sejumlah nama bintang dari dunia sepak bola termasuk Thierry Henry dan kapten Chelsea John Terry.

Tetapi adalah dimasukannya mantan pahlawan Liverpool pada saat turun minum, Suarez dan Torres yang keduanya dipasangkan bermain bersama untuk pertama kalinya.Baca Sbobet Selengkapnya .

Akan tetapi, justru penyerang Liverpool sekarang Balotelli yang jadi pusat perhatian, cukup memerlukan Sembilan menit untuk memberi keunggulan bagi tim Carragher, mengalahkan Brad Jones dengan tendangan kaki kiri mendatar.

Tim Carragher unggul dua gol dalam 23 menit dengan Balotelli, yang baru mencetak empat gol untuk klub sejak tiba musim panas lalu, terlibat kembali dalam proses terjadinya gol ketika Didier Drogba mengirimkan bola kepada pemain Italia ini, sebelum mengalahkan Jones di depan mulut gawang.

Tim Gerrard bangkit sebelum turun minum dan justru kaptennya sendiri yang mengalahkan mantan setim Pepe Reina dari titik putih setelah Martin Kelly menjatuhkan Jerome Sinclainr.

2-suarez-torresTim Gerrard kembali dan saat turun minum mereka mengerahkan amunisi lain saat mantan pahlawan Anfield Suarez dan Torres datang bersama mengganti salah satunya Henry.

Dan tidak lama sebelum the Kop diliputi suara penuh, nyanyian dari nama-nama mantan bintang mereka ketika Torres berkolaborasi dengan Gerrard, hanya saja bagi pemain tengah ini hanya menendang tembakan yang memantul mistar.

Torres terlibat dalam peluang berikutnya ketika Carragher menjatuhkannya tetapi wasit tidak tergerak. Reina, yang secara resmi meninggalkan Liverpool ke Bayern Munich musim panas lalu, menggunakan pertandingan amal ini sebagai kesempatan mengatakan selamat tinggal kepada fans klub dan dia menerima tepuk tangan penghormatan ketika dia digantikan oleh Peter Gulasci setelah 60 menit.

Akan tetapi, gol pengganti ini langsung mengambil bola dari gawangnya sendiri ketika Gerrard menyamakan kedudukan lewat penalti keduanya dalam pertandingan itu ketika Carragher menarik Suarez dalam kotak penalty.

Diselenggarakan oleh Liverpool FC Foundation, pertandingan ini menggalang dana untuk program komunitas, yang bermanfaat bagi ribuan pemuda dan dewasa di Liverpool.

Dana tersebut juga akan mendukung rumah sakit Alder Heys di the Park, juga menyediakan paket bantuan bagi Claire House, Positive Futures, Centre 56 dan Cash for Kids.

Statistik Tunjukan David De Gea Pemain Kunci Musim Ini

De-Gea

Dengan Louis van Gaal menyebut David de Gea “luar biasa” setelah penampilan hebatnya di Newcastle, Adam Bate memperlihatkan statistik yang menunjukkan jika kiper ini telah jadi bagian krusial pada penampilan yang terus meningkat dari United.

Menurut Opta, Manchester United telah membuat 25 kesalahan yang menyebabkan kesempatan menembak ke gawang mereka musim ini. Hanya Everton yang lebih banyak melakukan kesalahan defensif ini. Tetapi, telah terjadi 14 gol ke tim asuhan Roberto Martinez dari kesalahan tersebut, sementara United hanya kebobolan 2 gol dari kesalahan itu. Hanya Chelsea yang beruntng kebobolan dari presentase yang lebih rendah dari kesalahan yang mereka buat sendiri.

Tetapi, keberuntungan bukanlah konsep yang ada pada De Gea. Jelas, Van Gaal yakin jika kontribusi brilian De Gea menunjukkan kualitas yang amat luar biasa dari seorang pemain yang melakukan tugasnya dengan baik. “Saya pikir dia tidak menyelamatkan banyak poin karena dia adalah penjaga gawang saya dan tugasnya adalah menahan bola,” ujar pelatih asal Belanda ini. “Dan jika anda berpikir itu adalah pengecualian untuk kiper lain dan itu tidaklah demikian, maaf untuk itu.”Seperti yang dikutip Agen Judi dalam situs prediksi bola mereka .

Tetapi apakah kebetulan bahwa United tampak terlihat mengendalikan keberuntungannya di lini belakang musim ini? Statistik tentang terbuangnya peluang terbuka mengungkapkan pola yang sama. Opta menyebutkan peluang terbuka sebagai “situasi di banyak seorang pemain seharusnya mencetak gol, biasanya dalam keadaan satu lawan satu atau dari jarak dekat” dan ketika menghadapi United, angkanya mencengangkan. Tim-tim kesulitan mencegak gol saat menghadapi United dalam peluang terbuka tersebut.

Ini bukanlah pertama kali United mengharuskan De Gea bermain di posisi terbaiknya untuk mengamankan angka. Banyak sekali penyelamatan sebelumnya saat menghadapi pemain Sunderland Connor Wickham pekan lalu dan pemain QPR Charlie Austin usahanya dimentahkan sebanyak dua kali. Yang paling diingat, penampilan De Gea pada kemenangan Oktober 2-1 atas Everton dalam penyelamatan gemilangnya untuk mementahkan usaha Bryan Oviedo.

Pemain Spanyol ini mencatatkan presentase penyelamatan terbaik kedua dari kiper LIga Primer regular lainnya. Hasilnya, meski jadi favorit Van Gaal, Victor Valdes belum banyak dimainkan dari bangku cadangan United. “David de Gea, tahun ini, sangat luar biasa,” ujar manajer hari Rabu lalu. “Dalam karir saya, saya punya banyak penjaga gawang. Contohnya, Edwin van der Sar adalah salah satu kiper saya dan Valdes juga dengan Barcelona, tetapi De Gea sedang punya musim yang luar biasa.”

 

 

Santa Cruz dan Gonzalez lewatkan partai hadapi Peru

2-paraguay-santa-cruz-copa-america

Potensi lini depan La Albirroja menerima pukulan telak ketika dua pemain inti mereka dipastikan tidak akan terlibat dalam pertandingan untuk memperebutkan tempat ketiga Copa America 2015.

Paraguay akan bermain tanpa Roque Santa Cruz dan Derlis Gonzalez ketika mereka harus menghadapi Peru dalam pertandingan perebutan tempat ketiga hari Jumat waktu setempat tanggal 3 Juni di kota Concepcion.

Penyerang legendaris Santa Cruz terpaksa ditarik keluar lapangan dengan cidera hamstring di babak pertama dalam kekalahan semi final timnya yang memalukan 6-1 dari Argentina, sementara Gonzalez, yang mencetak gol penyeimbang dan tendangan penalti penentu menghadapi Brasil di babak perempat final, juga digantikan di awal pertandingan dalam pertemuan menghadapi Argentina setelah jatuh tanpa sengaja.

La Albirroja saat ini fokus untuk bisa finis di tiga besar dua kali berturut-turut setelah kekalahan final 2011 di Copa America setelah kalah dari Uruguay tetapi pelatih kepala Ramon Diaz masih harus mempersiapkan diri untuk pertandingan penting lainnya tanpa pemain pilihan pertamanya.

Menurut dokter Manuel Aguilar, dokter ortopedi Paraguay, kedua pemain tersebut menderita otot tertarik di paha kanan mereka, membuat mereka tidak bisa ambil bagian lagi dalam kompetisi ini.

Sementara itu, anggota skuad nasional lainnya masih perlu diuji sebelum mantan bos River Plate ini tahu siapa yang akan siap untuk pertandingan hari Jumat nanti menghadapi Los Incas.

Penyerang lain, Nelson Haedo Valdez menderita bengkak di paha kirinya sementara pemain bertahan Cerro Porteno Bruno Valdez juga menderita cidera yang sama di daerah yang serupa.

Akan tetapi, gelandang kuat San Lorenzo Nestor Ortigoza diperkirakan akan kembali pulih setelah melewatkan pertandingan penyisihan menghadapi Brasil dan Argentina.

Sementara Peru, Jefferson Farfan satu-satunya pemain yang diragukan setelah dia ditarik dari sesi latihan hari Rabu lalu untuk beristirahat memulihkan engkelnya, tetapi bisa saja tampil dalam laga hari Jumat nanti.

Los Incas finis ketiga dalam Copa America empat tahun lalu setelah bintang mereka Paolo Guerrero mencatatkan tiga gol untuk mengalahkan Venezuela 4-1.

Pemain hebat tim standar

2-argentina-copa-america

Albiceleste lagi-lagi menampilkan permainan yang kurang mengesankan ketika mereka gagal menembus Reggae Boyz meski menguasai pertandingan di Vina del Mar.

Akan sangat mudah menyalahkan tekanan yang datang karena jadi tim favorit di turnamen internasional sebesar Copa, tetapi kenyataan adalah Argentina bermain tidak seperti seharusnya sekarang.

Kemenangan 1-0 yang biasa atas Jamaika di Vina del Mar mungkin telah memastikan mereka mencapai puncak Grup B Copa America, tetapi Albiceleste terlihat sangat kesulitan menghadapi tim yang berada di peringkat 65 dunia ini.

Hasil ini bukan cerita baru. Dunia nampak menunggu-nunggu tim Argentina yang luar biasa untuk beberapa waktu, tetapi mereka kini harus menunggu lagi.

Di Piala Dunia 12 bulan lalu, tim asuhan Alejandro Sabella mengempaskan Bosnia Herzegovina, Iran dan Nigeria dengan kemenangan tipis di fase grup dan sulit memperlihatkan materi juara mereka setelahnya meski berhasil mencapai final. Kita nampaknya menghabiskan seluruh turnamen ini menunggu Argentina benar-benar bangkit.

Dan hal yang sama terjadi sekarang. Setelah menyia-nyiakan keunggulan 2-0 menghadapi Paraguay gara-gara 30 menit akhir di La Serena, tim asuhan Gerardo Martino hanya bisa mengamankan kemenangan tipis 1-0 atas Uruguya. Hasil berbeda seharusnya terjadi menghadapi underdog Winfried Schafer, khususnya karena mereka datang dengan pagar 10 pemain yang sudah diprediksikan.

Tapi masih saja Argentina belum menemukan gripnya. Susunan pemain apa pun yang Martino coba sejauh ini di CIle, kohesinya belum ada. Pertanyaannya sering kali ditanyakan mengapa Lionel Messi – mencatatkan penampilan ke 100 nya di timnas – tidak pernah memberikan hasil maksimal kepada negaranya seperti yang dia lakukan pada klubnya.

Tapi ketika di Barcleona terdapat dinamika di lini tengah yang bukan hanya memberi bola tetapi juga mendukung peraih gelar Ballon d’Or empat kali ini, departemen lini tengah Argentina sering kali hanya memberikan bola kepada lini depan dan hanya menunggu mereka menghasilkan sihir.

Entah Gonzalo Higuain, Sergio Aguero, Angel di Maria, Carlos Tevez atau Messi, tidak ada di tim ini yang saat ini mampu memberikan level klub di fase sekarang ini.

Argentina berhasil balaskan dendam atas Uruguay di Copa America

 

Tim asuhan Gerardo Martino memang tidak memenangkan banyak angka terkait gaya bermain dalam kemenangan 1-0 atas Uruguay, tetapi sudah menunjukkan bahwa mereka mampu meraih hasil penting ketika dibutuhkan.

Gerardo Martino akan jadi sangat lega. Pelatih Argentina ini menyaksikan timnya berhasil mengatasi tim ultra-defensif Uruguay hari Selasa lalu untuk mencatatkan kemenangan pertama mereka dalam ajang Copa America. Bukan permainan yang indah, tetapi memang tidak harus begitu.

Jelang pertandingan ini, Martino membicarakan tentang gaya dan pentingnya memainkan cara tertentu dengan Argentina. Tetapi membiarkan dua angka pergi dengan memungkinkan kecolongan dua gol hadapi Paraguay hari Sabtu lalu, sebuah kemenangan adalah yang terpenting dalam partai ini.

Uruguay membuat kesulitan dengan penjagaan ketat, pelanggaran konsisten dan pertahanan yang sangat dalam. Untuk sesaat mereka nampak membuar Argentina frustrasi seperti saat pertandingan hasil imbang 0-0 di perempat final Copa 2011, saat mereka harus kalah dalam adu penalti dari tim yang dilatih oleh Oscar Tabarez.

Tetapi satu momen inspirasi datang dan mengubah segalanya. Javier Pastore, ditempatkan di lini tengah bersama Lucas Biglia ketika Ever Banega dicadangkan, mengeluarkan skill luar biasa untuk mengatasi dua pemain belakang di sisi kanan dengan umpan manis kepada Pablo Zabaleta, yang umpan silang kerasnya langsung disundul tepat waktu oleh Sergio Aguero di dekat tiang gawang.

Martino, yang saat melatih Barcelona kesulitan untuk menyamai kondisi fisik dan defensif lawan-lawannya (terutama Atletico Madrid dalam enam pertemuan berbeda) di musim 2013-14, terpaksa dikeluarkan wasit di awal pertandingan dan harus menonton timnya dengan tegang ketika mereka gagal untuk memanfaatkan keunggulan dan Uruguay nyaris menyamakan kedudukan di sudut lain.

Tendangan kaki kanan Diego Rolan melenceng tipis di atas tiang gawang, sementara Alvaro Gonzalez menembakan tendangan jarak jauh beberap amenit kemudian dan Sergio Romero melakukan penyelamatan gemilang dari usaha Abel Hernandez di menit akhir.

Penampilan Argentina jauh dari meyakinkan, tetapi kali ini mereka mampu mempertahankan keunggulan tiga angka mereka.

Falcao gagal ketika Kolombia ditaklukan oleh Venezuela

2-falcao-kolombia-copa-americaTim bertabur bintang los Cafeteros harus mempertimbangkan kembali posisi dari penyerang terkenalnya ini ketika mereka bahkan gagal memberikan ancaman dalam kekalahan Copa America 1-0 mereka, ungkap Peter Staunton.

Kolombia tidak diragukan lagi punya kualitas yang lebih baik tetapi pemain bintang mereka tidak bisa bersatu. Malahan tim ini justru ditaklukan oleh tingkat kepintaran dan organisasi yang superior dalam kontingen Venezuela di Rancagua. Inti dari kemenangan 1-0 bagi the Vinotinto adalah mereka lagi-lagi mengancam untuk menggagalkan susunan kekuatan sepak bola di Amerika Selatan.

Di edisi 2011 tim ini menahan Brasil tanpa gol di pertandingan pertamanya sebelum berhasil membobol masuk ke semi final. Masih banyak pemain yang tampil di edisi 2015 ini dan dalam diri Oswaldo Vizcarrondo khususnya tim ini punya seorang pemain yang menyoroti pendekatan terkonsentrasi dan dahsyat yang masih terlihat jelas meski 4 tahun berlalu.

Meski demikian tidak ada tanda bahwa Venezuela akan datang ke turnamen ini dan mengulangi sukses 2011 dan pastinya tidak dengan melawan tim Kolombia yang ada di peringkat empat dunia. Venezuela finis keempat dari bawah dalam babak kualifikasi Piala Dunia 2014 zona Amerika Selatan dan hanya menikmati kesuksesan kecil atas Honduras dan Peru dalam perjalanan menuju turnamen ini. Mereka bahkan kalah dari Jamaika.

Akan tetapi, mereka datang bersama ke sini dan tim menunjukkan rencana bermain yang sempurna. Kolombia dibuat frustrasi oleh kemampuan Venezuela untuk mengunci lini tengahnya dengan ruang yang sangat sedikit yang diberikan kepada James dan kawan-kawannya untuk melancarkan sihir mereka. Gol tunggal itu, ketika datang, cukup bisa diprediksi terkait cara gol itu mungkin dicetak oleh Venezuela. Pemain sayap Ronald Vargas dan Alejandro terlalu cepat dan lihai bagi lini bertahan Kolombia malam itu. Mereka saling bekerja sama sebelum Salomon Rondon mengarahkan sundulan ke sudut gawang David Ospina.

Bisa saja lebih buruk bagi Kolombia karena bahkan justru Venezuela, lewat Guerra dan Vargas, yang terlihat punya lebih banyak peluang di babak pertama.

Saya tahu cara kalahkan Cile – Quinteros

2-quinteros-ekuador-cile-copa-america

Bos Tricolor ini dan Christian Noboa menjawab pertanyaan pers di Cile, dan optimistis bisa memberikan penampilan yang baik.

Pelatih Ekuador Gustavo Quinteros mengatakan dia yakin tentang pengetahuannya terkait cara untuk menghadapi tim Jorge Sampaoli jelang pertandingan Copa America pembuka mereka menghadapi Cile di Estadio Nacional di Santiago hari Kamis ini, atau Jumat waktu Indonesia.

La Roja, sebagai tuan rumah, ada di jajaran tim favorit juara tetapi Tricolor diam-diam yakin bisa membawa kejutan ketika dua tim ini bertemu di Grup A.

“Kami cukup tahu,” ungkap Quinteros dalam konferensi pers. “Kami tahu cara bermain menghadapi tim Sampaoli.

“Saya punya keyakinan bahwa tim akan bermain dengan baik dan akan terus berkembang dalam turnamen ini. saya tidak meragukan bahwa tim ini akan merespon dengan baik.”

Tuan rumah mungkin punya lebih banyak kualitas bintang dibandingkan La Tri, tetapi pelatih 50 tahun ini bersikeras bahwa tidak ada rencana khusus untuk menghadapi pemain besar seperti Alexis Sanchez, Arturo Vidal atau Jorge Valdivia.

“Chile punya kecepatan dalam transisi, mereka sangat cepat,” tambahnya. “Kami akan mencoba menyerang balik mereka. Kami tidak menakutkan salah satu pemain mereka.”

Ekuador memiliki catatan buruk dalam Copa America dengan finis di posisi empat di tahun 1993 sebagai capaian terbaik mereka.

Meski berhasil lolos tiga dari empat Piala Dunia sejak pergantian abad ini, Ekuador selalu gagal lolos dari fase grup sejak tahun 1997.

Terlebih lagi, hasil persiapan jelang turnamen ini juga bercampur dengan kekalahan menghadapi Meksiko dan Argentina sebelum hasil imbang dan kemenangan menghadapi Panama.

“Kami punya kewajiban untuk mewakili Negara kami dengan baik dan memperbaiki catatan buruk di masa lalu,” lanjutnya.

“Kami ingin membalikkan hasil menghadapi Meksiko dan Argentina.”

Bersama Quinteros yang menghadapi pers juga adalah gelandang PAOK Christian Noboa, yang menyatakan bahwa harapannya jauh lebih tinggi ada di tim Cile, yang bisa dimanfaatkan oleh timnya.

“Tekanan justru ada pada mereka [Cile],” lanjutnya. “Kami datang ke sini untuk menang.”

Ekslusif profil kapten Kolombia Radamel Falcao

2-radamel-falcao-colombia-copa-america

Bisakah El Tigre ini mengembalikan level kelas dunianya sekali lagi dan memberikan Copa pertama kepada generasi emas Pekerman sejak tahun 2001?

Radamel Falcao mungkin jadi satu pemain yang paling diuntungkan dair Copa America 2015.

Sempat jadi kandidat yang paling realistis untuk mematahkan hegemoni Lionel Messi – Cristiano Ronaldo, penyerang tajam Kolombia ini harus bertarung untuk mendapatkan kembali tempatnya di dunia sepak bola.

Melewati 30 bulan dengan permasalahan cidera telah mengancam kesuksesannya, Falcao sekarang harus membuktikan bahwa empat golnya dalam satu musim di Manchester United merupakan anomali ketimbang indikasi dari penurunannya.

Dalam pikiran bos timnas Jose Pekerman, dia mungkin merupakan pendukung yang paling penting dalam karirnya.

“Kami punya keyakinan penuh dalam diri Falcao, dia pemain penentu dalam tim nasional,” ungkap pelatih 65 tahun ini, saat menyebutkan penyerang ini sebagai kapten Kolombia di Copa. “Kami berharap dia mencapai tingkat tertingginya lagi.”

Falcao juga sempat bangkit dari cidera lutut serius sebelumnya. Cidera ligament sebagai seorang pemain 19 tahun dengan River Plate tahun 2006 mengharuskan dia menjalani operasi dan pemulihan selama 6 bulan, tetapi akhirnya itu tidak menghambat perkembangannya.

Dia meninggalkan Argentina dan bergabung dengan Porto tahun 2009 dan memulai perjalannya mencetak golnya di kancah Eropa. Dia mencetak 34 gol dalam musim debutnya, dan bahkan memecahkan catatan itu empat tahun berikutnya – termasuk 17 gol dalam perjalanan Liga eropa yang mematahkan rekor turnamen Jurgen Klinsmann dengan dua gol lebih unggul.

Kepindahan ke Atletico Madrid musim panas 2011 diperkirakan memberikannya tantangan lebih besar, tetapi El Tigre justru terus berburu, mencatatkan 36 gol dan mahkota Liga Eropa lainnya dalam debut pertamanya di Spanyol.

Sejak saat itu dia disebut pemain terbaik ketiga di dunia, dan musim 2012-13 bahkan membuatnya mendapat status lebih jauh.

Dia menyingkirkan Chelsea dengan sebuah hat trick di final Piala Super UEFA dalam kemenangan 401 dan membantu Atleti meraih kemenangan final Copa del Rey atas Real Madrid tahun itu.

Sayangnya, keputusannya untuk pindah ke Monaco terbukti jadi pukulan telak bagi karirnya setelah cidera lutut di musim pertamanya di Perancis benar-benar memberikan ujian berat bagi karirnya.

Wawancara ekslusif Carlos Bacca jelang Copa America 2015

2-carlos-bacca-colombia-copa-america

Setelah memenangkan Liga Eropa bersama Sevilla di akhir musim ini, penyerang tajam ini akan melanjutkan perburuan trofi berikutnya bersama Kolombia.

Jose Pekerman membawa anda ke Buenos Aires untuk persiapan anda seperti yang dia lakukan sebelum Piala Dunia 2014. Apakah ini kebetulan?

Sama seperti Piala Dunia, kami datang ke sini di Cardales, yang merupakan tempat yang bagus untuk mempersiapkan Copa America kali ini yang sangat penting bagi kami. Untuk berlatih dengan baik, beristirahat dan bekerja. Staf pelatih melihat poin-poin itu dan kami menerimanya dengan gembira.

Bagaimana rasanya menghadapi Brasil lagi?

Kami tahu bahwa pertandingan menghadapi Brasil sulit karena mereka tim besar. Kami harus benar-benar siap untuk bisa menandingi mereka.

Anda memasuki Copa America pada titik yang luar biasa dalam karir anda.

Musim ini berakhir dengan baik, mencapai target kami di Sevilla dalam sebuah musim yang sangat baik. Pencapaian klub membuat saya lebih semangat melakukan hal besar bersama Kolombia.

Bagaimana persaingan internal di antara begitu banyaknya penyerang handal dengan rekan setim anda?

[Radamel] Falcao dan saya pernah bermain bersama. Saya juga pernah bermain dengan Teo [Guiterrez] dan Jackson [Martinez]. Persaingan yang kami miliki, yang tidak begitu kompetitif jika ada tempat untuk berbagi, membuat kami lebih baik. Selanjutnya kita lihat siapa yang harus bermain.

Tetapi semuanya menandakan pertarungan posisi untuk bermain bersama Teo.

Di sini tidak ada pertarungan. Dengan Teo kami punya persaingan yang sehat. Hal penting di sini adalah Kolombia, tanpa memikirkan siapa yang akan bermain. Kami semua harus berkontribusi, apakah itu Teo, Jackson atau Luis Muriel.

Apa anda merasa lebih sebagai penyerang kotak penalti atau sebagai penyerang segala sisi?

Sepak bola telah berubah banyak dan kami semua harus jadi satu kesatuan. Kami semua harus bergerak dan kami semua harus melihat pergerakan orang lain sehingga mereka bisa memberi kita bola. Seperti dengan Falcao, Teo dan Jackson, kami semua harus bekerja keras dan tidak tinggal diam.

Apa anda merasa datang di momen terbaik anda?

Saya tidak tahu apakah ini momen terbaik saya, tetapi saya merasa baik secara fisik dan mental. Saya menunggu untuk berkontribusi kepada tim dan saya hanya memikirkan Copa America dan tidak ada hal lain lagi.

Kegagalan penalti Higuain sungguh memalukan – Mauro mantan gelandang Napoli

2-higuain-argentina-copa-america

Mantan pemain Napoli ini yakin tim ini terlalu sering kesulitan di partai-partai menentukan setelah kegagalan mereka untuk melaju ke Liga Champions karena kalah atas Lazio.

Kegagalan eksekusi Gonzalo Higuain benar-benar memalukan tetapi Napoli juga terlalu sering gagal di beberapa partai penting, menurut mantan gelandangnya Massimo Mauro.

Tim asuhan Rafael Benitez ini, memerlukan satu kemenangan untuk bisa lolos ke Liga Champions musim depan, tetapi mendapati tim mereka tertinggal 2-0 di kandang sendiri saat menjamu Lazio hari Minggu kemarin sebelum dua gol dari pemain Argentina ini berhasil menyamakan kedudukan.

Akan tetapi, Higuain kemudian menyia-nyiakan kesempatan tendangan penalty penting sebelum dua gol di menit-menit akhir mengunci kemenangan 4-2 bagi tim asuhan Stefano Pioli dan membuat Napoli terjungkal ke peringkat empat klasemen akhir di Serie A.

“Lazio tampil sangat luar biasa di babak pertama, kemudian mereka runtuh. Napoli bangkit dengan sangat brilian tetapi nampaknya mereka kesulitan di momen-momen penting,” Mauro, yang menghabiskan empat musim di San Paolo, kepada Sky Sports.

“Higuain adalah seorang penyerang penting tetapi kegagalan dalam penalti tersebut sungguh memalukan.”

Napoli sendiri enggan berbicara kepada media segera setelah pertandingan tersebut di tengah laporan ancaman kekerasan dari para pendukung mereka sendiri.

Dengan tugas domestiknya yang sudah selesai, kini penyerang internasional Argentina ini bisa memfokuskan dirinya pada persiapan Copa America Argentina setelah namanya berhasil dimasukkan dalam 23 nama final yang disiapkan Gerardo Martino jelang turnamen akbar Amerika Selatan ini.

La Albiceleste akan menghadapi Bolivia dalam sebuah pertandingan persahabatan jelang turnamen ini pada tanggal 6 Juni sebelum memulai perburuan gelar Copa mereka di Cile saat menghadapi Paraguay di kota La Serena pada tanggal 13 Juni.

Argentina akan tergabung bersama Uruguay, Paraguay dan Jamaika di Grup B Copa America. Saat ini mereka tengah mengejar gelar Copa America yang ke 15. Kemenangan dalam Copa edisi kali ini akan membuat raihan gelar trofi mereka sama dengan Uruguay yang saat ini masih menduduki posisi pertama dalam peraih Copa terbanyak.

Dnipro 2-3 Sevilla – Bacca cetak dua gol pastikan gelar Liga Eropa Sevilla

2-dnipro-sevilla-liga-eropa

Pemain internasional Kolombia ini mengemas dua gol di final, membantu tim asuhan Unai Emery untuk mempertahankan gelar mereka dan memastikan satu tempat dalam Liga Champions musim depan.

Sevilla menjadi tim pertama dalam sejarah yang memenangkan kompetisi lapis kedua sepak bola Eropa ini sebanyak empat kali setelah menang 3-2 atas Dnipro dalam final Liga Eropa Rabu kemarin, dengan Carlos Bacca yang mencetak dua gol.

Klub Andalusian ini mengangkat trofi di tahun 2006 dan 2007 – dulu namanya masih Piala UEFA – dan sekarang mereka juga behasil mempertahankan gelar untuk kedua kalinya, ketika penyerang Kolombia ini mencetak dua gol untuk membuktikan diri sebagai pahlawan malam itu.

Tim asuhan Unai Emery memenangkan kompetisi musim lalu dalam adu penalti setelah hasil imbang tanpa gol menghadapi Benfica di babak normal, tetapi pertemuan kali ini terbukti jadi pertandingan yang jauh lebih menarik.

Dnipro, berkompetisi dalam final Eropa pertama mereka, mencuri keunggulan awal melalui Nikola Kalinic, tetapi kemudian mereka mendapati diri mereka tertinggal ketika Sevilla membalas dua gol hanya dalam tiga menit.

Pertama, Grzegorz Krychowiak mencetak gol pertama setelah Dnipro gagal mengatasi bola di dalam kotak berbahaya, dan kemudian Bacca mencetak penyelesaian yang apik.

Tim Ukraina ini berhasil menyamakan kedudukan sebelum turun minum, ketika kapten Ruslan Rotan berhasil mencetak gol dari tendangan bebas.

Akan tetapi, Bacca yang  harus menyudahi pertandingan ini, berhasil menerima umpan Vitolo untuk memberikan gol dengan 17 menit tersisa dan memastikan Sevilla mengklaim trofi mereka – dan satu tempat dalam Liga Champions musim depan.

Sempat ada momen menegangkan dalam menit-menit akhir pertandingan ketika Matheus tiba-tiba terjatuh, namkanya setelah sebuah tabrakan kepala dengan Benoit Tremoulinas, tetapi pemain Dnipro ini nampak sadar setelahnya ketika dia bisa berdiri ke pinggir lapangan untuk menerima perawatan.

Bacca akan kembali membuktikan dirinya sebagai penyerang tajam ketika membela panji Kolombia dalam ajang Copa America 2015 yang akan segera dimulai awal bulan Juni nanti.

Cavani siap emban tugas dengan absennya Suarez

2-Cavani-copa-america

Penyerang Paris Saint Germain ini siap untuk membela la Celeste dan mengambil tanggung jawab lebih dengan absennya Suarez, bintang Barcelona di Copa America edisi 2015 ini.

Edinson Cavani siap untuk mengambil peran pemimpin bagi Uruguay di Copa America 2015 dengan absennya penyerang tajam Luis Suarez karena masih mendapat larangna 9 pertandingan internasional setelah menggigit Chiellini dalam Piala Dunia 2014 lalu.

Penyerang subur Barcelona ini mendapatkan gelar Pemain Terbaik Turnamen ketika la Celeste berhasil dimahkotai gelar juara dalam Copa America 2011 tetapi saat ini tidak akan bisa membantu negaranya untuk mempertahankan gelar ini karena larangan bermain.

Dengan absennya pemain penting tersebut, Cavani diharapkan akan mengemban tugas pencetak gol yang lebih banyak bagi tim asuhan Oscar Tabrez di Cile nanti, dan dia tahu bahwa dia punya peran besar yang harus dimainkan dalam perjalanan Uruguay nanti.

“Saya bertemu Luis [Suarez] di pertandingan Liga Champions menghadapi Barcelona dan kami berbincang-bincang. Saya mengatakan kepada dia sambil bercanda: ‘Sekarang Edi harus memberikan segalanya.’ Kami tertawa. Anda harus tertawa, tidak ada pilihan lainnya,” ungkap Cavani pada Ovacion Digital.

“Hal-hal seperti ini terjadi di sepak bola dan sekarang, sebagai salah satu pemimpin dalam tim ini, saya harus mengambil posisi itu dan tanggung jawabnya. Saya salah satu pemain yang senior yang bermain di tingkat tertinggi di dunia. Saya punya reputasi untuk bertahan, saya tahu.

“Hari ini, saya akan melewati masa yang baik di sini di Paris dan saya harap semuanya tetap begini, tetapi bukan hanya pertanyaan tentang apa yang saya inginkan, tetapi banyak hal.

“Saya harap ini Copa saya, tetapi kami semua bisa melewati Copa yang besar. Dan bahwa saya bisa berada dalam penampilan terbaik saya karena ini akan jadi kontribusi yang sangat besar bagi tim kami.”

Uruguay berada di Grup B bersama Argentina, Paraguay dan Jamaika, meski Cavani berpendapat akan sulit, dia merasa bahwa masuk ke dalam kompetisi tanpa dianggap sebagai favorit adalah sebuah keuntungan.

“Kami tidak pernah masuk ke kompetisi mana pun sebagai favorit dan lebih baik tidak. Sejak saya kecil, yang saya ingat, dan sekarang bahwa saya bagian dari timnas, memang tidak pernah seperti itu [dianggap tim favorit],” tambahnya.